Monday, August 17, 2015

PILULAE (PIL)



PILULAE (PIL)

-         Pil adalah suatu sediaan berupa massa bulat, mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan utk obat dalam.
Bobot pil :         100mg – 500 mg (FI Ed III)
                             100mg – 300mg (N.P.V)
Boli :               > 500mg (FI Ed III)
> 300mg (N.P.V)
Granula:          ≤ 30mg
Parvule :  ≤  20 mg

Komponen pil:
1. Zat utama : berupa bahan obat yang memenuhi persyaratan F.I.
2. Zat tambahan yang terdiri dari:
a.       Zat pengisi :  untuk memperbesar  volume massa pil agar mudah dibuat, contoh :akar manis, atau bahan lain yg cocok.
b.      Zat pengikat : untuk memperbesar daya kohesi maupun adhesi massa pil, agar massa pil dapat saling melekat menjadi massa yang kompak, contoh:   sari akar manis, gom akasia, tragakan, camp. bahan tsb atau bahan lain yg cocok.
c.       Zat pembasah : untuk memperkecil sudut kontak ( <900 ) antar molekul, sehingga massa menjadi lembab dan mudah dibentuk, contoh: air, gliserol, sirop, madu, atau campuran bahan lain yg cocok.
d.      Zat penabur: untuk memperkecil/        mengurangi gesekan antara molekul sejenis , sehingga massa pil tidak lengket pada alat pembuat pil  ataukah lengket dengan pil lainnya, contoh: likopodium, talk atau bahan lain yg cocok.
e.       Zat penyalut : fungsinya adalah:
untuk menutupi rasa dan bau yang tidak enak; mencegah perubahan karena pengaruh udara;  atau supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pils), contoh:  perak, balsam tolu, keratin, gelatin, gula atau bahan lain yg cocok.

Ada 6 tipe bahan obat yang diberikan secara enterik:
1.         Bhn obat yang dipakai terus menerus dan merangsang selaput lendir lambung, spt:seny. Arsen, antelmintik, digitalis dlsb.
2.         Bhn obat yang menghalangi pencernaan , krn dgn pepsin membentuk seny. yang tdk larut, spt: tannin dan Ag Nitrat
3.         Bhn obat yang terurai oleh asam lambung, seperti : antibiotik golongan penisilin.
4.         Bhn obat yang diharapkan dalam keadaan sepekat mungkin di usus, spt: antiseptik, santonin.
5.         Bhn obat yang mengakibatkan mabuk dan muntah, spt: emetin dan sulfonamide.
6.         Bhn obat yang dikehendaki beraksi lambat, seperti : antispasmodik, antihistamin dan barbiturat.                        

Pemilihan bahan tambahan :
              Jika memungkinkan bobot obat  + pengisi + pengikat dlm tiap pil adalah 100mg – 150mg, rata – rata 120mg (N.P.V)
·         Untuk pil dg jumlah obat yg kecil, digunakan akar manis. 
Jika pengikat dipakai sari akar manis, banyaknya akar manis  sekurang – kurangnya 2X sari akar manis .
Jika jumlah obat besar, kita tdk bebas dlm pemilihan zat pengisi dan pengikat. Disini penggunaan pulvis pro pilulis yg paling cocok.
Untuk bahan obat oksidator dipakai bolus alba sbg pengisi.
·         Untuk pil dgn jumlah obat yg kecil digunakan sari akar manis sbg pengikat sebanyak 2g u/ 60 pil.
·         Penggunaan PGS sebanyak 1 – 1,5 g u/ 60 pil.
·         Penggunaan campuran sari akar manis dan gula sama banyak (pil kina coklat)
·         Penggunaan Adeps Lanae dan Vaseline khusus untuk  :
a.       Bahan oksidator
b.      Bahan obat bereaksi  satu dengan yang lain.
c.       Obat yang terurai oleh air.

Cara pembuatan :
1.      Campur serbuk obat + zat pengisi + zat pengikat dan gerus ad homogen.
2.      Tetesi / masukkan zat pembasah sambil digerus dan ditekan sampai diperoleh massa yang saling mengikat dan plastis.
3.      Massa pil dibuat bentuk batang dg cara digulungkan pd papan kayu datar, sampai sepanjang alat pemotong pil yang dikehendaki, lalu dipotong dg alat pemotong pil sesuai  jumlah pil yang diinginkan.
Bahan penabur ditaburkan pd massa pil, alat penggulung dan alat pemotong pil, untuk menghindari massa pil melekat pada alat tersebut.
4.      Pil diatas digelindingkan sambil ditekan pada papan pembuat pil sampai bulat. Gunakan zat penabur untuk menghindari melekatnya massa pil  pd alat yg digunakan.
5.      Pil yg besarnya normal dibuat dg 125 mg serbuk tumbuhan.
·         u/ garam normal beratnya = berat serbuk tumbuhan.
·         u/ garam yang berat seperti KI dihitung 1/3 berat garam.
·         u/ Fe Red dan Fe Pulv. dan garam Fe lainnya  beratnya dihitung 1/5.
·         U/ penggunaan bolus dan adeps lanae – sukar pecah --- + Bic. Natric. aa bolus atau Na. Sulfat exsicc 1/3X bolus.
·         Penggunaan vaselin/ A. lanae --- 1/6X berat zat padat.
       Pembuatan pil dengan :
a.       Ekstrak  cair : bila banyak (> 1g) --- uapkan dgn akar manis, lalu tambah sari akar manis.
Bila < 1g --- berfungsi sbg pembasah.
b.      Ekstrak kental : >1,5g / 30 pil --- kebutuhan sari akar manis dikurangi.
c.       Minyak menguap, balsam, ekstrak eteris yg tdk bersifat mengikat ---- cairan diemulsikan dg air baru dibuat pil. Metode yg dipakai :
·         Metode Blomberg (glis dan radix.
u/ m.eteris --- gliserin aa.
Ol. Chenopodii dan Ol. Eucalypti --- gliserin 1,5X.
Balsam --- gliserin ¾ x
Gunakan gliserin bebas air dan radix kering.
·         Metode Succus liq dan gliserin
Zat diemulsikan dg succus dan gliserin aa. Setelah itu gerus sambil ditekan.
d.      Dgn garam yg higroskpis spt NaBr dll + air secukupnya --- gerus sampai larut lalu buat massa pil, dengan bantuan bhn pengisi dan pengikat.
Sbg pembasah jangan pakai air gliserin.
Pil yg dibuat dg akar manis tanpa penambahan lain a.l adalah :
1.   Ichtiol : massa pil jangan terlalu keras; massa + radix -- ± dlm bobot yg sama.
2.   Sari – sari kental
3.   Pix liquida
4.   Dll

Penyalutan pil berguna untuk
a.       Menutupi rasa dan bau tdk enak.
b.      Melindungi isi terhadap pengaruh udara.
c.       Mencegah pil pecah dlm lambung.

Syarat pil menurut F.I. III :
a.       Pd penyimpanan bentuknya harus tetap, tdk begitu keras shg dapat hancur dlm saluran pencernaan.
Pil salut enterik disalut secara khusus, shg tdk hancur dlm lambung tetapi hancur dlm usus halus.
b.      Memenuhi keseragaman bobot (lihat F.I. Ed. III)
c.       Memenuhi waktu hancur sesuai Farmakope (lihat F.I. Ed. III).

Penyimpanan pil :
Sesuai dengan cara penyimpanan tablet dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan.
Granula.
Granula a/ pil kecil yg bobotnya ≤ 30mg dan mengandung 1mg bahan berkhasiat, kecuali dinyatakan lain.
Pembuatan granul  = Pilulae
       Pengikat / pengisi yg digunakan u/ setiap granul adalah:
1.        22mg Saccharum pulv dan 3mg                        PGS.
2.                       20mg Lactosum dan 5mg PGA.
3.                       5mg Succus dan 20mg radix.

Jika diminta
a.       5mg sari kental/ granul dikerjakan sesuai dg no 3, succus dikurangi 100mg/ 60 granul.
b.      10 mg sari kental --- penambahan succus dihilangkan.
c.       1g sari kental u/ 60 ganul, maka hanya di tambah radix 800mg. jika lembab --- dipanaskan di atas Waterbad.
d.      Granul dg bahan mengoksid dibuat dg bolus alba dan vaselin, dan diambil 1,1g bolus + 0,5g vaselin / 60 granul.

EMULSI

Definisi

·      Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersinya terdiri9 dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. (Ansel, Howard. 2005. Halaman 376 )
·      Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan kecil. (FI IV. Halaman 6 )
·      Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. (FI III. Halaman 9 )
·      Emulsi adalah sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain ( sistem dispersi, formulasi suspensi dan emulsi Halaman 56 )
Dari beberapa defini yang tertera dapat disimpulkan bahwa emulsiadalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok.
Macam-macam emulsi
·      Oral
Umumnya emulsi tipe o/w, karena rasa dan bau minyak yang tidak enak dapat tertutupi, minyak bila dalam jumlah kecil dan terbagi dalam tetesan-tetesan kecil lebih mudah dicerna.
·      Topikal
Umumnya emulsi tipe o/w atau w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang dikehendaki. Sediaan yang penggunaannya di kulit dengan tujuan menghasilkan efek lokal.
·      Injeksi
Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.Contoh : Vit. A diserap cepat melalui jaringan, bila diinjeksi dalam bentuk emulsi.
(Syamsuni, A. 2006)
Tipe-tipe emulsi
·      Tipe emulsi o/w atau m/a : emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal, air sebagai fase eksternal.
·      Tipe emulsi w/o atau m/a : emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal, minyak sebagai fase eksternal.
(Syamsuni, A. 2006)
Emulsi yang tidak memenuhi persyaratan
·      Creaming : terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, yaitu nagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya jika dikocok perlahan akan terdispersi kembali.
·      Koalesensi dan cacking (breaking) : pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butiran minyak berkoalesensi/menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat irreversible. Hal ini terjadi karena :
a.    Peristiwa kimia : penambahan alkohol, perubahan pH
b.    Peristiwa fisika : pemanasan, pendinginan, penyaringan
c.    Peristiwa biologi : fermentasi bakteri, jamur, ragi
·      Inversi fase peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya sifatnya irreversible.
Komponen emulsi
A. Komponen dasar yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas :
a.       Fase dispersi : zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lainnya.
b.      Fase pendispersi : zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar ( bahan pendukung ) emulsi tersebut.
c.       Emulgator : bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
Contoh emulgator :
·      Gom Arab       : Cara Pembuatan air 1,5 kali bobot GOM
·      Tragacanth       : Cara Pembuatan air 20 kali bobot tragacanth
·      Agar-agar        : Cara Pembuatan 1-2% agar-agar yang digunakan
·      Condrus           : Cara Pembuatan 1-2% condrus yang digunakan
·      CMC-Na         : Cara Pembuatan 1-2% cmc-na yang dihunakan
Emulgator alam
·      Kuning telur    : Cara Pembuatan emulsi dengan kuning telur dalam mortir luas dan digerus dnegan stemper kuat-kuat, setelah itu dimasukkan minyaknya sedikit demi sedikit, lalu diencerkan dengan air dan disaring dengan kasa.
·      Adeps lanae    
Emulgator mineral
·      Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum ) : Cara Pembuatan diapaki 1%
·      Bentonit          : Cara Pembuatan 5% bentonit yang digunakan
Emulgator buatan/sintesis
·      Tween              : Ester dari sorbitan dengan asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen, berikut macam-macam jenis tween :
a.    Tween 20    : Polioksi etilen sorbitan monolaurat, cairan seperti minyak.
b.   Tween 40    : Polioksi etilen sorbitan monopalmitat, cairan seperti minyak.
c.    Tween 60    : Polioksi etilen sorbitan monostearat, semi padat seperti minyak.
d.   Tween 80    : Polioksi etilen sorbitan monooleat, cairan seperti minyak.
·      Span                : Ester dari sorbitan dengan asam lemak. Berikut jenis span :
a.    Span 20       : Sorbitan monobiurat, cairan
b.   Span 40       : Sorbitan monopulmitat, padat seperti malam
c.    Span 60       : Sorbitan monooleat, cair seperti minyak
B. Komponen Tambahan yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet
Metode Pembuatan Emulsi
·      Metode GOM kering 4:2:1
~ GOM dicampur minyak sampai homogen
~ Setelah homogen ditambahkan 2 bagian air, campur sampai homogen
·      Metode GOM basah
~ GOM dicampur dengan air sebagian
~ Ditambahkan minyak secara perlahan, sisa air ditambahkan lagi
·      Metode botol
~ GOM dimasukkan ke dalam botol + air, dikocok
~ Sedikit demi sedikit minyak ditambahkan sambil terus dikocok.
(Ansel, Howard. 2005)
Stabilitas Emulsi
·      Jika didiamkan tidak membentuk agregat
·      Jika memisah antara minyak dan air jika dikocok akan membentuk emulsi lagi
·      Jika terbentuka gregat, jika dikocok akan homogen kembali.
Evaluasi Sediaan Emulsi

·      Organoleptis : Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi 35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam.
·         Volume Terpindahkan (FI IV. Halaman 1089)
Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut.  Kocok isi dari 10 wadah satu persatu.
Prosedur:
Tuang isi perlahan-lahan dari tiap  wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udaa pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit. 
Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran:  volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100 % dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95 % dari volume yang tertera pada etiket, atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90  % dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terdadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100 % dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % seperti yang tertera pada etiket.
·      Penentuan viskositaas : Dilakukan terhadap emulsi, pengukuran viskositas dilakukan dengna viskometer brookfield pada 50 putaran permenit (Rpm).
·      Daya hantar listrik       : Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian dihubungkan dengan rangkaian arus listrik. Jika mampu menyala maka emulsi tipe minyak dalam air. Jika sistem tidak menghantarkan listrik maka emulsi tipe air dalam minyak.
·      Metode pengenceran   : Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian diencerkan dengan air. JIka dapat diencerkan maka emulsi tipe minyak dalam air dan sebaliknya.
·      Metode percobaan cincin: Jika satu tetes emulsi yang diuji diteteskan pada kertas saring maka emulsi minyak dalam air dalam waktu singkat membentuk cincin air disekeliling tetesan.
·      Metode warna  : Beberapa tetes larutan bahan pewarna lain ( metilen ) dicampurkan ke dalam contoh emulsi. Jika selurih emulsi berwarna seragam maka emulsi yang diuji berjenis minyak dalam air, oleh karena air adalah fase luar. Sampel yang diuji bahan warna larut sudan III dalam minyak pewarna homogen pada sampel berarti sampel tipe air dalam minyak karena pewarna pelarut lipoid mampu mewarnai fase luar.

Contoh Resep
Resep standart
Fornas hal 13
R/ Oleum Ricini                      30
PGA                                   10
Sach. Alb                            15
Aqua ad                            250

Resep rancangan
R/ Oleum Ricini                      30
PGA                                   10
Sach. Alb                            15
Pengaroma jeruk                 10 gtt
Pewarna kuning                  qs
Aqua ad                            250
S.1.dd.1.c.o.n

Monografi :
a)      Oleum Ricini / Minyak Jarak (FI IV. Halaman 631)
Pemerian  : cairan kental, transparan, kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, bebas dari bau asing dan tengik; rasa khas.
Kelarutan : larut dalam etanol; dapat bercampur dengan etanol mutlak, dengan asam asetat glasial, dengan kloroform dan dengan air.
Khasiat     : laksativum / pencahar.
b)      Gom Arab / Acasia (FI IV. Halaman 718)
Pemerian  : serbuk, putih atau putih kekuningan; tidak berbau.
Kelarutan : larut hampir semua dalam air, tetapi sangat lambat, meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit, dan memberikan cairan seperti mucilage, tidak berwarna / kekuningan, kental, lengket, transparan, bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam eter dan etanol. Terdiri dari 40% PGA yang dilarutkan dalam 1,5 bagian air.
c)      Sacharum Album (FI III. Halaman 334)
Pemerian  : hablur tidak berwarna, serta warna putih, tidak berbau rasa manis.
Kelarutan : larut dalam 0,5 bagian air dan dalam 370 bagian etanol 95% P.
Perhitungan Bahan
a)      Oleum Ricini               = 30 / 250 x 30 = 3,6 gram
b)      PGA                             = 10 / 250 x 30 = 1,2 gram
Air untuk PGA                   = 1,2 x 1,5 = 1,8 mL
c)      Sach. Alb                    = 15 / 250 x 30 = 1,8 gram
d)     Pengaroma jeruk         = 10 / 250 x 30 = 1,2 tetes = 2 tetes

Alat dan bahan
Alat :                                                               Bahan :
Mortir dan stamper                                         Ol. Ricini
Timbangan dan anak timbangan                     PGA
Botol 50 mL                                                    Sach Alb
Etiket putih                                                     Aquadest

Cara pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan, dikalibrasi botol 30 mL.
2.      Dibuat korpus emulsi dengan cara digerus 1,2 g PGA dalam mortir, ditambahkan 2,4 mL ol.ricini, diaduk sampai terbentuk korpus emulsi dan tidak ada tetes minyak di mortir.
3.      Ditambahkan sisa ol.ricini sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai dimortir tidak terlihat tetes minyak.
4.      Ditimbang sach alb 1,8 g diletakkan di cawan, ditambahkan aquades 1 mL air diaduk ad homogen, dimasukkan ke mortir no.3.
5.      Ditambahkan air sedikit demi sedikit ad encer, diaduk ad homogen.
6.      Ditambahkan pewarna secukupnya, diaduk ad homogen.
7.      Dimasukkan ke dalam botol, ditambahkan sisa aquades ad 30 mL + pengaroma jeruk 2 tetes, dikocok ad homogen.
8.      Botol diberi cup, diberi etiket putih dan tanda “kocok dahulu”.

Pembahasan :
Pada saat pembuatan emulsi ol.ricini dilakukan langkah – langkah sesuai dengan langkah - langkah yang ada di cara pembuatan di atas. Hasilnya sediaan yang dibuat tercampur secara homogen dan sesuai dengan yang diinginkan. Warna dan aroma sediaan yang dibuat juga sudah sesuai. Maka cara pembuatan yang dirancang  seperti di atas bisa digunakan untuk membuat emulsi ol.ricini yang baik.

Resep standart
FMS hal 47
R/ Benzyl Benzoat      14
Emulgide                   1,750
Ol. Sesami                 1,750
Aq.ad                     70
   s.u.e

Resep Rancangan
R/ Ol. Olivae               14
Triethanolamine        1,4
Acid Stearic             5,6
Pengaroma Jeruk    q.s
Pewarna Kuning     q.s
Aqua ad                  70
              s.u.e

Monografi
a)      Ol. Olivae/Ol. Olivarum (FI IV. Halaman 630)
Pemerian  : minyak, berwarna kuning pucat atau kuning kehijauan terang; bau dan rasa khas lemah dengan rasa ikutan agak pedas.
Kelarutan : sukar larut dalam etanol; bercampur dengan eter, dengan kloroform, dan dengan karbon disulfida
Bobot jenis : 0,910 – 0,915
b)      Triethanolamin (FI IV. Halaman 1203)
Pemerian  : cairan tidak berwarna; berbau kuat amoniak.
Kelarutan : sukar larut dalam air; dapat bercampur dengan etanol, dengan eter, dan dengan air dingin.
c)      Acidum stearicum/Asam stearate (FI III. Halaman 576)
Pemerian  : zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%), dalam 2 bagian kloroform P, dalam 3 bagian eter P.
d)     Ol. Sesami (FI III. Halaman 459)
Pemerian  : cairan kuning pucat, bau lemah, rasa tawar.
Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95%) P.
Khasiat     : emolien.
Bobot jenis : 0,916 – 0,921.

Kesulitan         : sulit mengukur ol.sesami dan ol.olivarum dalam gram.
Usulan             : karena bobot jenisnya mendekati 1 maka diukur dalam mL supaya lebih mudah dalam mengukur.

Perhitungan bahan

a)      Ol. Olivae                       = 14 / 70 x 30 = 6 ml

b)      Triethanolamine             = 1,4 / 70 x 30 = 0,6 ml

c)      Acid stearic                     = 5,6 / 70 x 30 = 2,4 gram

d)     Ol. Sesami                      = 1,750 / 70 x 30 = 0,75 ml

e)      Aqua                                = 30 – (6+0,6+2,4+0,75)

 = 30 – 9,75

 =20,25 mL

Alat dan bahan
Alat :                                                               Bahan :
Mortir dan stamper                                         Ol. Olivae
Timbangan dan anak timbangan                     Triethanolamine
Botol 50 mL                                                    Acid Stearic
Cawan penguap                                              Pengaroma Jeruk
 Pewarna Kuning
 Aquades

Cara pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan, dikalibrasi botol 30 ml.
2.      Disiapkan mortir panas, disisihkan.
3.      Ditimbang acid stearic 2,4 g, diukur ol. Sesami 0,75 mL dimasukkan ke cawan penguap, dilebur di water bath ad leleh.
4.      Setelah leleh dimasukkan ke mortir panas, diaduk.
5.      Diukur triethanolamine 0,6 mL ditambahkan sedikit aquades, dimasukkan ke dalam mortir panas no.4, diaduk kuat ad homogen.
6.      Ditambahkan ol. Olivae 6 mL dalam campuran no.5 sedikit demi sedikit dimortir panas, diaduk ad homogen dan dingin.
7.      Ditambahkan aquades untuk mengencerkan, diaduk ad homogen.
8.      Ditambahkan pewarna secukupnya, diaduk ad homogen.
9.      Dimasukkan ke dalam botol, ditambahkan aquades ad 30 mL + pengaroma jeruk secukupnya, ditutup, dikocok kuat.
10.  Botol di beri cup, diberi etiket biru + tanda “kocok dahulu”.

  
Pembahasan :
Pada saat pembuatan emulsi ol.olivarum dilakukan langkah – langkah sesuai dengan langkah - langkah yang ada di cara pembuatan di atas. Hasilnya sediaan yang dibuat tercampur secara homogen. Warna dan aroma sediaan yang dibuat juga sudah sesuai. Tetapi sediaan yang dibuat terlalu kental hampir menyerupai krim. Hal ini terjadi karena jumlah triethanolamine dan acid stearic terlalu banyak. Jumlah triethanolamine dan acid stearic yang digunakan adalah 1,4 dan 5,6 dalam 30 mL sedangkan menurut sumber jumlah triethanolamine dan acid stearic yang digunakan adalah 1 dan 4 dalam 150 mL. Maka cara pembuatan yang dirancang  seperti di atas bisa digunakan untuk membuat emulsi ol.olivarum yang baik. Hanya saja jumlah perbandingan triethanolamine dan acid stearic yang digunakan perlu dirubah (disesuaikan) supaya tidak terlalu kental.